Pacitan merupakan wilayah pesisir selatan Jawa yang secara geografis berada di garis depan potensi ancaman gelombang pasang dan bencana seismik laut. Mengingat sejarah wilayah tersebut, kesiapsiagaan bencana menjadi harga mati bagi keselamatan ribuan warga. Namun, pengadaan alat peringatan dini tsunami berskala besar sering kali terkendala biaya pemeliharaan yang sangat mahal dan kompleksitas teknologi. Menjawab tantangan keamanan publik ini, para siswa di SMPN 1 Pacitan menciptakan sebuah terobosan teknologi mitigasi bencana yang sangat terjangkau. Mereka berhasil merancang sebuah detektor tsunami murah yang dirancang khusus untuk menjadi sistem peringatan lapis kedua yang handal bagi masyarakat nelayan setempat.
Proyek ini bermula dari keprihatinan para siswa terhadap jarak antara alat pendeteksi milik pemerintah yang berada jauh di tengah laut dengan pemukiman warga. Dalam melakukan risetnya, siswa SMPN 1 Pacitan mencari cara bagaimana mendeteksi perubahan permukaan laut secara drastis tanpa harus menghabiskan biaya miliaran rupiah. Inovasi mereka terletak pada pemanfaatan teknologi mikrokontroler sumber terbuka dan menggunakan sensor tekanan air (transduser tekanan) yang biasanya dipakai dalam industri pompa, namun dimodifikasi untuk membaca anomali tinggi muka air laut secara presisi. Keberhasilan menciptakan detektor tsunami murah ini menjadi bukti bahwa keterbatasan anggaran bukan penghalang bagi lahirnya solusi penyelamat nyawa.
Secara teknis, alat ini bekerja dengan cara ditanam di dasar perairan dangkal dekat pantai atau di dalam pipa sumur pantau pesisir. Sistem yang dikembangkan siswa SMPN 1 Pacitan akan terus-menerus memantau tekanan hidrostatis air. Ketika tsunami mendekat, terjadi perubahan tekanan yang sangat cepat akibat penarikan air laut atau gelombang datang yang masif. Melalui logika pemrograman yang mereka tanamkan saat menggunakan sensor tekanan air, alat tersebut dapat membedakan antara gelombang pasang surut biasa dengan anomali yang menyerupai pola tsunami. Jika pola berbahaya terdeteksi, detektor tsunami murah ini akan langsung mengirimkan sinyal radio ke sirine yang terpasang di gedung sekolah dan masjid terdekat.
Keunggulan utama dari karya siswa SMPN 1 Pacitan ini adalah aspek kemandirian energinya. Alat ini dilengkapi dengan panel surya kecil dan baterai cadangan yang mampu bertahan dalam kondisi cuaca buruk. Dengan keputusan menggunakan sensor tekanan air yang bersifat hemat energi, alat ini bisa beroperasi 24 jam sehari tanpa henti.