Labirin Air Tanah: SMPN 1 Pacitan Bedah Sistem Sungai Bawah Tanah

Kabupaten Pacitan di Jawa Timur dikenal sebagai “Kota Seribu Goa” karena topografi karstnya yang sangat unik. Di balik perbukitan kapur yang gersang, tersimpan kekayaan hidrologi yang luar biasa berupa jaringan sungai yang mengalir jauh di kedalaman bumi. Fenomena geologi ini menjadi subjek penelitian yang mendalam bagi para siswa di SMPN 1 Pacitan. Melalui program bertajuk Labirin Air Tanah, para siswa diajak untuk mengeksplorasi dan membedah secara ilmiah bagaimana Sistem Sungai Bawah Tanah terbentuk dan berperan sebagai tumpuan hidup masyarakat di daerah karst yang rawan kekeringan.

Penelitian ini memfokuskan pada pemahaman tentang proses pelarutan batuan gamping oleh air hujan yang mengandung karbon dioksida, sebuah proses kimiawi yang menciptakan lorong-lorong gua yang kompleks. Siswa di Pacitan belajar bahwa sungai bawah tanah bukanlah sekadar aliran air biasa, melainkan sebuah ekosistem tertutup yang memiliki karakteristik debit dan kualitas air yang sangat dipengaruhi oleh kondisi permukaan. Dalam studi lapangan terkontrol, siswa diajak untuk mengamati pintu masuk gua (luweng) yang menjadi titik masuk air permukaan ke dalam labirin bawah tanah, memberikan gambaran nyata tentang siklus hidrologi yang tersembunyi.

Salah satu fokus utama dari kegiatan di SMPN 1 Pacitan ini adalah pemetaan sederhana terhadap arah aliran air. Siswa belajar menggunakan metode perunutan (tracing) menggunakan bahan alami untuk mengetahui ke mana air dari satu luweng akan bermuara. Eksperimen ini melatih kemampuan analisis spasial dan logika geologi mereka. Mereka menyadari bahwa apa pun yang dibuang ke dalam lubang di permukaan tanah akan berdampak langsung pada kualitas air tanah yang dikonsumsi warga. Hal ini memberikan pelajaran moral dan etika lingkungan yang sangat kuat mengenai pentingnya menjaga kebersihan kawasan tangkapan air di wilayah karst.

Selain aspek geologi, para siswa juga Bedah keterkaitan antara ketersediaan air tanah dengan pola adaptasi masyarakat lokal. Di tengah tantangan perubahan iklim, memahami debit air di dalam labirin bawah tanah menjadi kunci untuk manajemen sumber daya air yang berkelanjutan. Siswa melakukan pengukuran sederhana terhadap suhu dan pH air untuk membandingkan karakteristik air sungai bawah tanah dengan air permukaan. Hasilnya, mereka menemukan bahwa air di dalam labirin cenderung lebih stabil suhunya namun sangat rentan terhadap kontaminasi bakteri jika area permukaan tidak dikelola dengan baik.