Merayakan Perbedaan: Program Cultural Day sebagai Media Belajar Toleransi Agama dan Budaya

Indonesia, dengan kekayaan suku, agama, dan budayanya, menempatkan toleransi sebagai nilai inti dalam Pendidikan Karakter. Di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), upaya penanaman nilai ini diwujudkan secara nyata melalui Program Cultural Day yang berfungsi sebagai media pembelajaran empiris mengenai keragaman. Program Cultural Day bukan sekadar festival perayaan, melainkan sebuah inisiatif pendidikan yang dirancang secara strategis untuk mendorong siswa berinteraksi langsung dengan perbedaan, menghancurkan stereotip, dan menumbuhkan rasa empati dan saling menghormati di antara remaja. Kegiatan ini menjadi Teknik Efektif untuk Menciptakan Suasana Inklusif di lingkungan sekolah.


Toleransi Melalui Interaksi Langsung

Tujuan utama Program Cultural Day adalah mengubah pemahaman teoretis tentang toleransi menjadi pengalaman praktis. Ketika siswa secara langsung terlibat dalam presentasi dan pameran budaya, mereka belajar bahwa perbedaan bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekayaan. Di SMP Tiga Pilar Bangsa, Kota Medan, Program Cultural Day diselenggarakan setiap Sabtu terakhir bulan Agustus sebagai acara tahunan yang wajib diikuti seluruh siswa kelas VII hingga IX. Dalam acara tersebut, kelas-kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok yang merepresentasikan provinsi atau budaya minoritas, termasuk aspek agama dan kepercayaan mereka.

Siswa diwajibkan melakukan riset mendalam mengenai keunikan budaya yang mereka representasikan. Sebagai contoh, kelompok yang mewakili budaya Bali tidak hanya memamerkan pakaian adat, tetapi juga menjelaskan filosofi di balik upacara keagamaan Hindu dan seni Tari Kecak. Guru Pembina Seni Budaya, Ibu Rina Adiwijaya, S.Pd., yang mengoordinasikan kegiatan ini, menekankan bahwa siswa harus mampu menjawab pertanyaan dari pengunjung mengenai aspek etika dan toleransi dari budaya yang mereka pamerkan. Keterlibatan aktif ini Membangun Argumentasi siswa berdasarkan pengetahuan, bukan asumsi.


Keterlibatan Komunitas dan Aparat Keamanan

Untuk memberikan perspektif yang lebih luas, Program Cultural Day seringkali melibatkan komunitas dan tokoh agama setempat. Di SMP Tiga Pilar Bangsa, pihak sekolah mengundang perwakilan dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Medan untuk sesi sharing terbuka dengan siswa mengenai praktik hidup rukun dalam perbedaan. Sesi ini diadakan pada Jumat, 29 Agustus 2025, sehari sebelum puncak acara. Sesi tersebut memberi kesempatan bagi siswa untuk bertanya secara langsung tentang isu-isu sensitif dalam kerukunan antarumat beragama dengan didampingi oleh Kepala Sekolah, Bapak Budi Hartono, M.A.

Aspek keamanan dan ketertiban juga diperhatikan. Mengingat keragaman yang dipamerkan, koordinasi dengan pihak berwenang menjadi penting. Pada pelaksanaan acara puncak, Polsek Medan Baru ditugaskan untuk memantau keamanan di sekitar area sekolah untuk memastikan acara berlangsung tertib dan aman. Keterlibatan Polsek ini memberikan rasa aman dan mengajarkan siswa tentang pentingnya menjaga ketertiban publik dalam merayakan kebebasan berekspresi budaya dan agama.

Melalui Program Cultural Day yang terstruktur ini, siswa SMP mendapatkan kesempatan nyata untuk merayakan dan memahami keragaman. Mereka belajar untuk tidak hanya mentoleransi, tetapi juga menghargai perbedaan, sebuah keterampilan krusial yang akan membentuk mereka menjadi warga negara yang utuh dan bertanggung jawab di tengah masyarakat yang majemuk.