Memperkenalkan berbagai jenis ibadah sunnah kepada siswa SMP merupakan langkah strategis dalam memperkaya khazanah spiritual mereka. Di usia remaja, pemahaman mengenai ibadah yang bersifat opsional namun bernilai pahala besar—seperti Praktik Salat Sunnah—dapat membentuk kedekatan emosional yang lebih dalam dengan Sang Pencipta. Namun, menentukan jenis salat yang tepat untuk diajarkan bukanlah perkara memilih yang paling rumit, melainkan memilih yang paling relevan dan mampu membangun rutinitas ibadah yang konsisten.
Pemilihan praktik ibadah bagi siswa harus mempertimbangkan karakteristik usia mereka yang dinamis. Salat Dhuha, misalnya, adalah pilihan yang sangat tepat untuk diperkenalkan sebagai pembiasaan sekolah. Selain waktunya yang memang berada di jam operasional sekolah, salat ini juga memiliki dampak psikologis yang positif, seperti menenangkan pikiran sebelum memulai pelajaran. Fokus utama di sini bukanlah pada jumlah rakaat, melainkan pada kemauan siswa untuk meluangkan waktu sejenak di tengah kesibukan akademik mereka.
Selain itu, memperkenalkan salat sunnah Tahajud atau Witir sebagai bagian dari program pesantren kilat adalah langkah cerdas. Meskipun secara teknis pelaksanaannya dilakukan di rumah, sekolah dapat berperan sebagai pengingat dan pemandu. Dengan memberikan pemahaman tentang keutamaan salat-salat ini, siswa diajak untuk lebih mandiri dalam mengelola jadwal ibadah mereka sendiri. Bagi siswa SMP, menanamkan kemandirian ibadah adalah kunci utama agar nilai-nilai agama tidak sekadar menjadi formalitas yang dilakukan di sekolah, melainkan menjadi bagian dari gaya hidup mereka sehari-hari.
Dalam proses pengajaran, jangan terjebak pada hafalan doa yang panjang atau tata cara yang kaku. Fokuslah pada esensi dari salat sunnah tersebut. Jelaskan mengapa kita melakukannya dan apa dampaknya bagi jiwa kita. Misalnya, salat Hajat yang sering dipraktikkan siswa saat menghadapi ujian. Ketika siswa mengerti bahwa salat adalah cara berkomunikasi untuk memohon kemudahan, mereka akan melakukannya dengan penuh kesadaran dan ketulusan, bukan karena sekadar meniru gerakan orang lain.
Peran guru sangat vital sebagai teladan. Guru perlu menunjukkan bahwa mereka pun merutinkan salat-salat sunnah tersebut. Pendekatan modeling atau mencontohkan secara langsung selalu jauh lebih efektif dibandingkan memberikan ceramah satu arah. Ketika siswa melihat guru-guru mereka dengan tenang melaksanakan salat sunnah di mushala sekolah, rasa ingin tahu akan muncul secara alami, dan mereka akan lebih termotivasi untuk ikut serta mempraktikkannya. Inilah yang disebut dengan pendidikan melalui keteladanan.