Kegiatan utama yang mereka lakukan adalah upaya kolektif untuk jaga pantai melalui aksi pembersihan sampah anorganik secara berkala. Para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menyisir bibir pantai, mengumpulkan limbah yang dibawa oleh arus laut maupun sisa aktivitas pengunjung. Namun, ini bukan sekadar aksi pungut sampah biasa. Para siswa juga melakukan identifikasi terhadap jenis sampah yang paling banyak ditemukan, yang kemudian dijadikan data untuk bahan diskusi di sekolah mengenai pola konsumsi masyarakat. Aksi nyata ini menumbuhkan rasa memiliki yang kuat terhadap ruang publik yang menjadi identitas daerah mereka.
Konsep pendidikan yang diterapkan di sini adalah metode belajar sambil jaga pantai melakukan praktik lapangan yang sangat edukatif. Di sela-sela aksi bersih pantai, guru biologi dan geografi memberikan penjelasan langsung mengenai ekosistem laut, peran terumbu karang, hingga dampak mikroplastik terhadap rantai makanan. Siswa diajarkan untuk memahami bahwa laut adalah paru-paru dunia yang harus dilindungi. Dengan melihat langsung kondisi lapangan, pemahaman mereka terhadap teori di dalam kelas menjadi lebih mendalam dan emosional. Belajar tidak lagi terasa kaku karena dilakukan di bawah langit terbuka dengan deburan ombak sebagai latar suaranya.
Fokus sekolah dalam upaya melestarikan alam ini juga diintegrasikan dengan program penanaman pohon cemara udang di sepanjang garis pantai untuk mencegah abrasi. Siswa belajar bagaimana teknik menanam yang benar agar bibit pohon dapat bertahan di lingkungan yang berkadar garam tinggi. Pengalaman luar ruangan ini memberikan pelajaran tentang kesabaran dan ketelatenan. Sekolah ingin memastikan bahwa kurikulum yang diberikan tidak hanya mencetak manusia yang pintar secara akademis, tetapi juga manusia yang memiliki kepekaan ekologis dan etika terhadap lingkungannya.
Respon dari para wisatawan dan masyarakat lokal sangat positif terhadap gerakan yang diinisiasi oleh sekolah ini. Kehadiran para siswa di pantai memberikan contoh nyata bagi orang dewasa untuk lebih bijak dalam membuang sampah. Secara tidak langsung, para siswa ini sedang melakukan diplomasi lingkungan kepada publik. Mereka membuktikan bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk memberikan kontribusi besar bagi kelestarian bumi. Kebiasaan baik ini pun mulai terbawa ke lingkungan rumah, di mana siswa menjadi lebih disiplin dalam memilah sampah dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di kehidupan sehari-hari.
Pihak sekolah senantiasa berkolaborasi dengan komunitas peduli lingkungan dan dinas terkait untuk memastikan program ini berkelanjutan. Dokumentasi kegiatan juga diunggah ke media sosial sekolah untuk menginspirasi institusi pendidikan lainnya. Dengan mengemas isu lingkungan menjadi sesuatu yang menarik dan prestisius, menjaga alam kini menjadi sebuah tren positif di kalangan remaja Pacitan. Mereka belajar bahwa kekuatan kolektif mampu membawa perubahan besar bagi masa depan ekosistem pesisir Indonesia.